Selasa, 10 November 2009

Kisah Selembar Uang 50rb

Jum'at 6 November 2009 lalu, ada seorang mahasiswi yang baru pulang dari kampusnya. Seperti biasa, dia bolak-balik Solo-Boyolali untuk kuliah setiap hari Senin s.d. Jum'at.

Sepulang dari Solo ketika itu, indikator bensinnya menunjuk E. Tandanya dia harus mengisi bensinnya. Setelah menimbang- nimbang akhirnya dia mengisi bensin di batas kota Boyolali. Dalam saku bajunya dia tidak menemukan uang sedikitpun. Akhirnya dia mengeluarkan dompetnya, dia ingat bahwa di dalam dompet itu terdapat uang Rp. 55rb. 1 lembar 5 ribuan dan 1 lembar 50 ribuan.

Menimbang-nimbang ingin membeli bensin berapa banyak? Setiap di SPBU dia selalu membeli bensin sebanyak 10rb. Tetapi entah mengapa kali itu dia mengeluarkan uang 5 rb, dan memilih untuk menyimpan uang 50 ribuannya. Bensin yang didapatkannya kali itu pun sepertinya melebihi dari harga yang dibeli. Namun dia tidak ambil pikir.

Setelah mengisi bensin, dia meluncur ke tempat saudaranya di Sunggingan. Di sana dia menemuia adik sepupunya yang pulang dari pondok hari itu dan mau kembali lagi ke pondok. Disana dia memikirkan kembali tentang uang 50 rb itu. Dia ingin pulang ke rumah lalu mampir membeli es buah atau es rujak, namun entah mengapa saat itu dia tidak jadi pulang.

Akhirnya berangkatlah adik sepupunya ke sebuah pondok di Bekonang pada tepat jam 14.00.

Hari pun berjalan seperti biasa.

Menginjak adzan magrib, dia dikagetkan oleh adiknya yang tiba- tiba pulang lagi dalam keadaan menangis. Ternyata Allah mengambil barang yang bukan menjadi rezkinya, tas yang dibawanya hilang, beserta seluruh uang yang akan digunakan untuk membayar sekokahnya.

Ketika sholat, terbesit keinginan untuk memberikan uang 50 rb itu kepada adiknya. Tidak selang berapa lama, ibunya sms mengatakan bahwa dia diminta untuk memberikan uang 50 rb kepada adiknya.

Itulah kuasa Allah, Allah menetapkan rezeki atas makhluk yang diciptakannya. Seperti uang 50 rb tadi. Allah telah menetapkan siapa yang memiliki uang tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar